Selasa, 09 Oktober 2012

Strabel Bagian II Bab III


BAGIAN II
STRATEGI PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


BAB III
KONSEP DAN STRATEGI
PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM

A.    Pengertian Strategi Pembelajaran

1. Pengertian Strategi
 Strategi belajar mengajar terdiri dari tiga segmen (kata) yakni: “strategi”, “belajar” dan “mengajar”. Sebelum diuraikan secara lengkap defenisi dimaksud terlebih dahulu dibahas pengertian dari segmentnya. Secara etimologi “strategy” –bahasa Inggris- dapat diartikan sebagai ahli siasat perang.(S.Wojowasito,1991:216). Pengertian tersebut sama halnya yang dituliskan Jhon M. Echols dalam kamusnya Bahasa Inggris-Indonesia.

Menurut terminologi “strategi” mengandung makna rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai tujuan khusus. Dalam dunia pengajaran istilah “strategi” selalu di-identifikasikan dengan teknik, pendekatan dan metode. (Guntur Tarigan, 1991: 2) Dalam upaya menjelaskan tiga perbedaan di atas, di bawah ini akan diuraikan sebagaimana berikut:

Pertama; teknik adalah merupakan suatu muslihat tipu daya atau penemuan yang dipakai untuk menyelesaikan serta menyempuranakan suatu tujuan langsung. Kedua; pendekatan adalah seperangkat asumsi korelatif yang mengenai hakikat pengajaran dan pembelajaran. Dan ketiga; metode merupakan rencana keseluruhan bagi penyajian bahan secara rapi dan tertib, yang tidak ada bagian-bagiannya yang bersifat kontradiktif dan kesemuanya itu didasarkan pada pendekatan terpilih.

Dari perbedaan di atas dijumpai suatu sintesa bahwa istilah teknik, pendekatan dan metode sering dipakai secara bergantian, walaupun pada dasarnya ketiga istilah itu  tidaklah bersinonim. Ada pakar yang mengemukakan batasan istilah selabus pendekatan strategi dan metode sebagai berikut:

“Silabus mengacu kepada pokok bahasan suatu pelajaran atau rangkaian pelajaran serta urutan pengajaran. Pendekatan secara ideal merupakan dasar-dasar teoritis yang menentukan cara-cara memperlakukan atau menjabarkan silabus. Strategi atau teknik adalah kegiatan instruksional pribadi seperti terjadi dalam kelas. Metode merupakan gabungan ketiga faktor di atas, walaupun beberapa kombinasi memperlihatkan kesamaan yang dalam tujuan pelajaran dari pada yang lainnya”. (Westphal, 1970: 120)

Apabila unsur-unsur silabus, pendekatan, strategi dan  teknik terintegrasi dengan materi pengajaran, maka terpilihlah gaya peribadi sang pengajar yang menarik dan tetciptalah metode yang utuh.

Agar pengetian mengenai isitilah ini semakin jelas di bawah ini akan debentangkan  cakupan istilah strategi:
CAKUPAN ISTILAH STRATEGI
Silabus
Pendekatan
Gaya pribadi
Metode
Strategi
Bahan
Materi




Cakupan istilah strategi (Tarigan, 1991: 4)
Dengan demikian secara singkat dapat dikatakan bahwa strategi adalah merupakan prosedur-prosedur yang digunakan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

2. Pengetian Belajar
Setelah diuraikan secara singkat defenisi strategi, dubawah ini ini ditayangkan pula yang berhubungan dengan “belajar”. Banyak orang beranggapan bahwa belajar adalah mencari ilmu, ada lagi yang lebih secara khusus mengartikan belajar itu dengan “menyerap pengetahauan”. Jika konsep ini yang dipakai tidak ubahnya mendefenisikan dirinya (siswa) seperi botol kosong yang perlu dituangi air.

Anggapan di atas disebabkan perbuatan belajar itu adalah sangat kompleks sekali. Dengan kompleksnya belajar itu terdapatlah banyak defenisi yang dituliskan pada ahli, sebahagian di antaranya ialah seperti yang dijelaskan pada uraian berikut ini:
1.      Menurut M. Gagne; belajar adalah suatu proses yang dapat dilakukan jenis makhluk hidup tertentu sebahagian besar binatang. Termasuk manusia tetapi tumbuhan tidak. Belajar merupan poroses memungkinkan makhluk-makhluk  ini merubah tingkah lakunya cukup cepat dalam cara yang kurang lebih sama, sehingga perubahan yang sama tidak harus terjadi lagi pada setiap situasi baru. (Robert M. Gagne, 1988: 17)
2.      Menurut Sardiman, belajar dapat diartikan sebagai kegiatan psiko pisik menuju perkembangan peribadi sutuhnya.(Sardiman AM. 1987: 14)
3.      Cronbac menuliskan bahwa belajar itu adalah learning is shown by change in behavior as a result of expreince.( Cronbac, 1954: 47)
4.      Satu defenisi lagi yang perlu dikemukakan di sini yaitu learning is the process by which behavior (in brader sense) is orqineted or changed thrugt praktice or training. (Kingstey, 1952 : 2)

Dari pengertian di atas dapat diakumulasikan bahwa belajar itu adalah merubahan tingkah laku (chnage behavior). Perubahan dimaksud bukan hanya berkaitan dengan ilmu pengetahuan tapi juga berhubungan dengan kecakapan, ketrampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak dan penyesuaian diri.

3. Pengertian Mengajar
Kalau di atas tadi dirumuskan pengertian “belajar” selanjutnya di bawah ini akan dibahas pula pengertian “mengajar”. Sardiman AM menuliskan mengajar ialah merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar. (Sardiman AM, 1994 : 46-47). Sejalan dengan itu  mengajar dapat juga dikatakan suatu kontak antara guru dengan murid dalam rangka mencapai tujuan. (Iskandar Wiryokusumo, 1982: 48). Rumusan di atas dapat dipertajam bahwa mengajar itu adalah menanamkan ilmu pengetahuan kepada anak didik dengan suatu harapan terjadi suatu proses pemahaman. Kata proses dimaksud berarti “mengajar” itu harus mempunyai perencanaan atau planning yang matang.

Dari beberapa pengertian segmen di atas dapat diperoleh makna “Strategi Pembelajaran ” itu adalah: suatu upaya yang digunakan dalam meningkatkan kualitas proses pengajaran, atau juga dapat disebut sebagai tindakan nyata perbuatan guru itu sendiri pada saat mengajar berdasarkan rambu-rambu dalam satuan pelajaran, dengan kata lain ia memandang strategi belajar mengajar sebagai realisasi disain pegajaran. (Ahmad Rohani, 1990: 33). Pengertian yang lebih luas lagi seperti halnya yang disebutkan oleh Nama Sujana bahwa Strategi Belajar Mengajar ialah taktis yang digunakan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar (pengajaran) agar dapat mempengaruhi para siswa  (peserta didik) mencapai tujuan pengajaran (TIK) secara efektif dan efisien. (Nana Sujana, 1990: 1990)

B.     Hakekat Pembelajaran
1. Hakekat Belajar
M. Gagne menuliskan bahwa hakekat belajar adalah suatu yang terjadi di dalam benak anak atau di dalam otaknya. Belajar disebut suatu proses karena secara formal ia dibandingkan dengan proses organik manusia lainnya.(Robert M.Gagne, 1988: 17) Dengan demikian belajar merupakan suatu hal yang sulit. Namun demikian, dewasa ini telah banyak referensi yang berkenaan dengan itu, sehingga kesulitan proses dimksud sebahagian diantaranya telah dapat diantisipasi lewat metoda ilmiah. Seperti halnya S.Nasution mensinyalir pendapat Bruner bahwa proses belajar dapat dibedakan tiga episode (1) informasi (2) transformasi (3) evaluasi.

Urgensi ketiga unsur di atas dilatarbelakangi oleh ke-fithrahan manusia. Oleh karena itu kata Roijakkers proses belajar merupakan jalan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk mengerti suatu hal yang sebenarnya yang tidak diketahui. (Rooijakkers, 1992: 9) Dari retasan di atas  setidaknya ada 5 (lima) pokok besar hakekat belajar itu yakni:

1)     Belajar suatu proses aktif di mana terjadi hubungan saling mempengaruhi secara dinamis antara siswa dan lingkungannya.
2)     Belajar senantiasa bertujuan terarah dan jelas bagi siswa, tujuan akan menentukan dalam belajar untuk mencapai tujuan.
3)     Belajar paling efektif apabila didasari oleh dorongan yang murni dan bersumber dari dirinya sendiri.
4)     Belajar senantisa ada rintangan dan hambatan dalam belajar karena itu siswa harus sanggup mengatasinya secara tepat.
5)     Belajar memerlukan latihan dan ulangan agar apa-apa yang telah dipelajari dapat dikuasai.

Demikian halnya yang berhubungan dengan hakekat belajar, selanjutnya untuk memperjelas bagaimana eksistensi hakekat belajar itu akan ditayangkan teori-teori tentang belajar yakni: Menurut Slameto teori belajar ada 13 (tiga belas) macama:


1)     Teori belajar menurut konsep Ilmu Jiwa Daya. Teori ini menganggap bahwa manusia itu mempunyai daya-daya seperti berfikir dan daya mengenal
2)     Teori Tanggapan. Artinya adalah di mana inti belajar adalah ulangan
3)     Teori  Assosiasi atau teori Sarbond. Yakni belajar itu adanya perubahan tingkah laku melalui Stimulus Respon
4)     Teori Trial And Error. Maksudnya jika salah atau tidak tepat adakan ulangan  sehingga tercapai tujuan yang ditetapkan
5)     Teori Medan. Teori ini meletakkan persoaalan itu pada suatu medan konteks sehingga dapat menghubungkan antara persoalan dengan konteksnya
6)     Teori Gestalt. Hukum belajar di sini tak ada bedanya dengan hukum yang berlaku pada pengamatan  yaitu: di mana belajar titik sentralnya bukan ulangan melainkan insight atau mengerti
7)     Teori Behaviorisme. Artinya adalah belajar  yang menitikberatkan kepada persoalan perubahan tingkah laku
8)     Teori Belajar Bruner. Teori ini berpandangan belajar harus mementingkan anak didik lebih banyak berbuat dalam proses belajar mengajar
9)     Teori Belajar Piaget. Teori ini berprinsip bahwa anak mempunyai perkembangan belajar tertentu, seperti anak memiliki struktur mental yang berbeda, mempunyai perekembangan mental melalui pase tertentu, yaitu masa berfikir secara intuitif  usia 4 tahun, berfikir konkrit usia 7 tahun dan berfikir secara foramal diperkirakan usia 11 tahun. Hal ini dipengaruhi oleh pengalaman , integrasi sosial dan equilibration).
10) Teori Purposiful Learning. Belajar yang dilakukan dengan sadar untuk mencapai tujuan dan dilakukan siswa sendiri tanpa perintah orang lain di dalam situasi sekolah
11) Teori R. M.Gagne. Bayi belajar bukan hanya lewat interaksi tapi baru dalam dalam bentuk sensori- motor dan ketika anak dewasa berikan kepada anak kebebasan belajar dengan lain
12) Teori Belajar Learning and Imitation –belajar meniru. Balam belajar ini sangat  berpengaruh kepada anak bagaimana tingkah laku seseorang seperti, orangtua  dan guru
13) Teori Belajar Mearningful Learning –belajar bermakna-. Model belajar ini sedikitnya ada 5 (lima) macam hal yang perlu diperhatikan yaitu; pertama, tipe-tipe belajar yakni menerima dan menemukan. Kedua, struktur dan proses internal atau proses mengintegrasikan yang telah ada. Ketiga, variable di dalam belajar bermakna ini mencakup pengetahuan yang telah dimiliki, diskriminalibitas dan kemantapan serta kejelasan (stability and clarity). Keempat, motivasi belajar bermakna, ini meliputi 3 komponen yang perlu diperhatikan yakni dorongan kognitif, harga diri, dan kebutuhan berafialisasi, kelima penerapan di sekolah. (Slameto, 1991: 8 sd 28)

2. Hakekat Mengajar
Ada dua kata yang sering digunakan dalam memberikan ilmu kepada orang lain termasuk term ini menjadi issu dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Segmen tersebut adalah kata mendidik dan mengajar. Menurut Sardiman “mendidik” sama halnya memelihara dan memberikan latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran, sedangkan “mengajar” memberi pelajaran.(Sardiman, 1987: 52) Bertitik tolak dari paradigma di atas bahwa mengajar itu sebgagai usaha guru untuk menyampaikan dan menanamkan ilmu pengetahaun kepada siswa (transfer of knowledge). Sedangkan mendidik suatu usaha untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaan baik secara jasmani maupun rohani (bukan sebagai transfer knowledge, tapi ia adalah transfer of values.

Dengan demikian Hakekat mengajar adalah mentransfer ilmu pengetahuan, eksprien dan mengiternalisasikan velue (nilai) kepada anak, sehinga anak dapat mensosialisasikan dirinya dalam masyarakat. Beranjak dari itu bahwa tujuan Pendidikan Nasional dirumuskan untuk membentuk manusia Indonesia susila yang cakap dan warga egara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.

Sardiman, mencoba memberikan interpretasi beberapa arti yang terkandung dalam tujuan itu. Pertama “susila” = berbudi  luhur, tanggung jawab. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mempertinggi budi pekerti. Kedua “cakap” = memiliki ilmu pengetahuan dan kecerdasan, ketrampilan dan dapat mengembangkan  kreativitas. (Sardiman AM. 1987: 58) Sejalan dengan itu untuk merealisir tujuan di atas Gresser sebagaimana yang dikutif Ahmad Rohani, menawarkan sebuah pola dasar mengajar yaitu:


POLA DASAR MENGAJAR


IO

ý

EB

ý


IP

ý

PA
Pola Dasar Mengajar, (Ahmad Rohani, dkk. 1990: 69)

Keterangan
IO        = Instruktional objektif                       
IP        = Instruktional Procedures
EB       = Entering Behavior                           
PA       = Perpormance Assesment

Dari hakekat mengajar tersebut dapat diinterpretasikan bahwa operasional dalam proses belajar mengajar setidaknya ada 3 (tiga) macam aspek yakni:

Pertama; aspek materi, yang meliputi interes (usaha guru menarik perhatian pada materi pelajaran baru), titik pusat (apa yang diuraikan guru benar terpusat pada bahasan yang sedang digarap), rantai kognitif (sistematika penyampaian bahan pelajaran) kontak (menyangkut hubungan bathiniah guru dengan siswa dalam kaitannya dengan bahan yang sedang dibahas dan penutup (cara guru dalam menutup penjelasan suatu pokok bahasan)

Kedua; aspek modal kesiapan, hal ini meliputi gerak suara, titik perhatian, variasi penggunaan media, isyarat verbal, waktu selang (tenggang waktu antara satu ucapan dengan pembicaraan berikutnya juga termasuk suatu kegiatan dengan kegiatan berikutnya)

Ketiga; ketrampilan operasional, antara lain membuka pelajaran, memotivasi mengajukan pertanyaan dan menggunakan isyarat non verbal atau gerakan anggota badan untuk memberikan gambaran tentang sesuatu dalam rangka memperjelas yang diucapkan guru, menanggapi siswa, menggunakan waktu dan mengakhiri pelajaran. (Sardiman Am. 1987: 192-218)

Dengan berbagai komentar di atas benang merah hakekat mengajar itu ialah suatu pemikiran atau persiapan untuk melaksanakan tugas mengajar dengan menerapkan prinsip-prinsip pengajaran disertai dengan langkah-langkah dan perencanaan pengajaran itu sendiri, pelaksanaan dan penilaian dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran.

C.    Tahapan Pembelajaran
Sebagaimana biasanya bila melakukan aktivitas agar pekerjaan itu hasilnya baik tentunya aktivitas itu mempunyai planning atau perencanaan yang matang. Demikian juga proses belajar-mengajar sudah barang tentu memiliki tahapan-tahapan tertentu sebelum mengaplikasikan proses belajar-mengajar.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas J.J. Hasibuan mengakumulasikan tahapan mengajar kepada tiga episode:

Episode Pertama: sebelum mengajar yang harus disiapkan dalam hal ini adalah program tahunan, pelaksanaan kurikulum, program semester cawu dan program satuan pembelajaran. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan program ini ialah:
a.      Bakal bawaan yang ada pada siswa (pupil entering behavior)
b.      Perumusan tujuan pelajaran
c.      Pemilihan metode
d.     Pemilihan pengalaman-pengalaman belajar
e.      Pemilihan bahan pengajaran, peralatan, fasilitas belajar
f.       Mempertimbangkan krakteristik siswa
g.      Mempertimbangkan cara membuka pelajaran, pengembangan dan menutup pelajaran
h.      Mempertimbangkan peranan siswa dan pengelompokannya
i.        Mempertimbangkan prinsip-prinsip belajar antara lain, pemberian penguatan, motivasi, mata rantai kognitif pokok-pokok yang akan dikembangkan dan penentuan model

Episode Kedua: tahapan pengajaran, hal ini meliputi:
a.      Pengelolaan kelas
b.      Penyampaian informasi
c.      Penggunaan tingkah laku verbal (kalimat bertanya)
d.     Penggunaan tingkah laku non verbal (gerak pinadah guru)
e.      Cara mendapatkan feed beach atau umpan balik
f.       Mempertimbangkan prinsip-pronsip psikologi antara lain; motivasi, pengulangan dan lain-lain
g.      Mendiagnosa kesulitan belajar
h.      Menyajikan kegiatan sehubungan dengan perbedaan individual
i.        Mengevaluasi kegiatan interaksi

Episode Ketiga: tahapan sesudah pengajaran, hal ini perlu diperhatikan antara lain:
a.      Menilai pekerjaan siswa
b.      Membuat perencanaan untuk pertemuan berikutnya
c.      Menilai kembali proses belajar-mengajar yang telah berlangsung. (J. J. Hasibuan, 1985: 39-40)

D.    Prinsip-Prinsip dan Teori Pembelajaran

1.      Prinsip-Prinsip Pembelajaran
Dalam merumuskan prinsip-prinsip mengajar,para ahli tampaknya belum dapat memberikan suatu keputusan yang final, hal ini disebabkan karena mengajar adalah masalah yang kompleks, namun demikian beberapa pendapat tentang prinsip-prinsip mengajar itu akan dibentangkan pada uraian berikut ini secara sederhana yaitu:
Pertama: Pendapat Slameto
1.      Perhatian; Di dalam mengajar guru harus memperhatikan siswa dan pelajaran yuang disajikan.
2.      Aktivitas; Dalam proses belajar mengajar, guru perlu menimbulkan aktivitas siswa baik dalam berfikir maupun dalam berbuat.
3.      Appersepsi; Guru harus mampu menghubungkan pelajaran yang akan diberikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa atau pengalamannya.
4.      Peragaan: Salah satu indikator guru yang arif itu adalah mengusahakan menunjukkan benda-benda yang asli minimal guru dapat menunjukkan model atau menggunakan benda lain dalam proses belajar mengajar.
5.      Repitasi; Guru mengajar perlu menjelaskan sesuatu secara berulang-ulang
6.      Korelasi; Guru dalam menjalankan tugas mengajar wajib memperhatikan dan memikirkan hubungan setiap mata pelajaran.
7.      Konsentrasi; Guru harus mampu menimbulkan konsesentrasi dalam proses belajar mengajar.
8.      Sosialisasi; Dalam perkembangannya siswa perlu banyak bergaul dengan teman lainnya, disamping sebagai individu ia juga mempunyai rasa sosial yang tinggi, maka tugas guru sebagai pendidik adalah menumbuhkembangkan sifat-sifat di atas.
9.      Individualisasi; Siswa merupakan individu yang unik mereka punya perbedaan, seperti intelgensia. Minat dan bakat, serta tingkah laku, guru harus menyelidiki dan mendalami perbedaan siswa, agar dapat melayani pendidikan yang sesuai dengan perbedaan itu.
10.  Evaluasi; Semua kegiatan guru dalam mengajar perlu dievaluasi, dengan evaluasi guru juga dapat mengetahui prestasi dan kemajuan siswa, sehingga dapat bertindak yang tepat, bila siswa mengalami kesulitan belajar.

Kedua: Pendapat Mursel
Mursel menuliskan bahwa prinsip-prinsip mengajar itu ada 6 (enam) macam yaitu:
1.      Konteks: Ciri-ciri konteks yang baik ialah: a) beritegrasi secara dinamis, mempertimbangkan minat dan bakat, memberikan motivasi aktif sehingga siswa harus menjadi peserta jangan menjadi penonton. b) terdiri dari pengalaman aktual dan konkrit. c) pengalaman konkrit dan dinamis, merupakan alat untuk menyusun pengertian bersifat sederhana dan pengalaman itu dapat ditiru untuk diulangi.
2.      Fokus; Ciri-ciri fokus yang baik ialah: a) memobilisasi tujuan. b) memberi bentuk dan informasi keseragaman belajar. c) mengorganisasi belajar.  d) menyiapkan ketrampilan yang harus dikuasai, dilanjutkan dengan usaha yang sedang berjalan.
3.      Sosialisasi: Ciri-ciri adalah: a) fasilitas sosial.  b) perangsang (incentives).                c) kelompok demokratis.
4.      Individualisasi; Dalam mengorganisasi belajar guru harus memperhatikan kesanggupan para siswa, sebab siswa punya perbedaan dengan siswa lainnya. Perbedaan itu ditandai dengan adanya perbedaan vertikal (perbedaan mental intelgensia,  minat dan bakat, serta tingkah laku) dan perbedan kualitatif (perbedaan cara bekerja, kecenderungan terhadap mengerjakan soal)
5.      Sequence (rangkaian); Maksudnya ialah belajar mengajar sebagai gejala tersendiri, contoh bila guru mengajarkan Diponegoro guru juga harus mengajarkan sejarah Indonesia, adapun ciri-cirinya ialah:
1)   pertunbuhan itu bersifat kontiniu
2)   pertumbuhan tergantung dari tujuan
3)   pertumbuhan merupakan perubahan dari pengusaan langsung menuju kepada kontrol yang jauh.
4)   Pertumbuhan tergantung pada munculnya makna
5)   Pertumbuhan merupakan perubahan dari yang konrit ke arah yang abstrak
6)   Pertumbuhan sebagai suatu gerakan dari yang kasar dan global ke arah memperbedakan
7)   Pertumbuhan merupakan proses transformasi
6.      Evaluasi; Evaluasi dilaksanakan adalah untuk menilai hasil proses belajar mengajar, adapun kritera evaluasi yang perlu diperhatikan ialah: a) penilaian pada hasil langsung. b) evaluasi transfer. c) penilaian langsung dari proses belajar.

2.      Teori-Teori Pembelajaran

Teori pembelajaran berusaha merumuskan cara-cara untuk membuat orang dapat belajar dengan baik. Ia tidak semata-mata merupakan penerapan dari teori atau prinsip-prinsip belajar walaupun berhubungan dengan proses belajar. Dalam teori pembelajaran dibicarakan tentang prinsip-prinsip yang dipakai untuk memecahkan masalah-masalah praktis di dalam pembelajaran dan bagaimana menyelesaikan masalah yang terdapat dalam pembelajaran sehari hari. (Snelbaker,) Teori pembelajaran tidak saja berbicara tentang bagaimana manusia belajar tetapi juga mempertimbangkan hal-hal lain yang mempengaruhi manusia secara psycologis, biografis, antropologis dan sosiologis. Tekanan utama teori ini adalah prosedur yang telah terbukti berhasil meningkatakan kualitas pembelajaran yaitu ;



1.      Belajar merupakan suatu kumpulan proses yang bersifat individu, yang merubah stimuli yang datang dari lingkungan seseorang ke dalam sejumlah informasi yang selanjutnya dapat menyebabkan adanya hasil belajar dalam bentuk ingatan jangka panjang. Hasil-hasil belajar ini memberikan kemampuan melakukan berbagai penampilan;
2.      Kemampuan yang merupakan hasil belajar ini dapat dikatagorikan sebagai a. bersifat praktis dan teoritis.
3.      Kejadian-kejadian di dalam pembelajaran yang mempengaruhi proses belajar dapat di kelompokkan ke dalam kategori umum, tanpa memperhatikan hasil belajar yang diharapkan. Namun tiap-tiap hasil belajar memerukan adanya kejadian-kejadian khusus untuk dapat terbentuk. (M. Gagne 1985 : 19)

Dari uraian di atas tampak bahwa teori pembelajaran merupakan suatu kumpulan prinsip-prinsip yang terintegrasi dan memberikan preskripsi untuk mengatur situasi agar siswa mudah mencapai tujuan belajar. Prinsip-prinsip pembelajaran dapat diterapkan dalam pembelajaran tatapmuka di kelas maupun tidak seperti pembelajaran jarak jauh, terprogram dll. Teori pembelajaran juga memberi arahan dalam memilih metode pengajaran yang mana yang paling tepat untuk suatu pembelajaran tertentu. Sehubungan dengan itu berdasarkan teori yang mendasarinya yaitu teori psikologi dan teori belajar maka teori pembelajaran ini dapat dibagi ke dalam lima kelompok yaitu:

Pertama:
Teori pembelajara berbasis pendekatan modifikasi tingkahlaku;
Teori pembelajaran ini menganjurkan agar para guru menerapkan prinsip penguatan (reinforcment) untuk mengidentifikasi aspek situasi pendidikan yang penting dan mengatur kondisi sedemikian rupa yang memungkinkan siswa dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Untuk itu guru sangat penting untuk mengenal karakteristik siswa dan karakteristik situasi belajar sehingga guru dapat mengetahui setiap kemajuan belajar yang diperoleh siswa.

Kedua:
Teori Pembelajaran Konstruk Kognitif;
Teori ini diturunkan dari prinsip/teori belajar kognitifisme. Menurut teori ini prinsip pembelajaran harus memperhatikan perubahan kondisi internal siswa yang terjadi selama pengalaman belajar diberikan di dikelas. Pengalaman belajar yang diberikan oleh siswa harus bersifat penemuan yang memungkinkan siswa dapat memperoleh informasi dan ketrampilan baru dari pelajaran sebelumnya. (Harun rasyid dan mansur 2008:45)

Ketiga:
Teori pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip belajar;
Dari berbagai teori belajar yang ada, Bulgelski (dalam Snelbecer) mengidentifikasi beberapa puluh prinsip kemudian dipadatkan menjadi empat prinsip dasar yang dapat diterapkan oleh para guru dalam melaksanakan tugas mengajar. Ke empat prinsip dasar tersebut adalah:

1)      Untuk belajar siswa harus mempunyai perhatian dan responsif terhadap materi yang akan diajarkan. Jadi materi pembelajaran harus diatur sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian si belajar.
2)      Semua proses belajar memerlukan waktu, dan untuk suatu waktu tertentu hanya dapat dipelajari sejumlah materi yang sangat terbatas.
3)      Di dalam diri orang yang sedang belajar selalu terdapat suatu alat pengatur internal yang dapat mengotron motivasi serta menentukan sejauh mana dan dalam bentuk apa seseorang bertindak dalam suatu situasi tertentu.
4)      Pengetahuan tentang hasil yang diperoleh di dalam proses belajar merupakan faktor penting sebagai pengontrol. Disini ditekankan juga perlunya kesamaan antara situasi belajar dengan pengalaman-pengalaman yang sesuai dengan kehidupan nyata.

Kempat:
Teori Pembelajaran berdasarkan analisis tugas;
Teori pembelajaran yang ada diperoleh dari berbagai penelitian dilaboratorium dan ini dapat diterapkan dalam situasi persekolahan namun hasil penerapannya tidak selalui memuaskan oleh karena itu sangat penting untuk mengadakan analisis tugas (task analysis) secara sistematis mengenai tugas-tugas pengalaman belajar yang akan diberikan kepada siswa, yang kemudian disusun secara hierarkis dan diurutkan sedemikian rupa tergantung dari tujuan yang ingin dicapai.

Kelima:
 Teori Pembelajaran berdasarkan Psikologi Humanistik;
Teori pembelajaran ini sangat menganggap penting teori pembalajaran dan psikoterapi dari suatu teori belajar. Prinsip yang harus diterapkan adalah bahwa guru harus memperhatikan pengalaman emosional dan karakteristik khusus siswa seperti aktualisasi diri siswa. Dengan memahami hal ini dapat dibuat pilihan-pilihan kearah mana siswa akan berkembang.

E. Tujuan Pengajaran
Tujuan pengajaran dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh guru untuk memperoleh hasil yang dicapai oleh siswa. Dalam proses pembelajaran, seorang guru harus mempu mengetahui dan merumuskan tujuan pengajaran, dan ini merupakan hal  yang penting, karena jika tidak mengetahui dan tidak ada rumusan tujuan pengajaran, maka suasana pebelajaran akan kehingan arah dan kendali. Mengajar tidak sama dengan ceramah, mimbar bebas, tapi mengajar adalah suatu proses yang sangat normatif dan prosedural.

Tujuan pengajaran merupakan utama yang terlebih dahulu harus dirumuskan guru dalam proses belajar mengajar sebelum proses pembelajaran dimulai. Perumusan tujuan itu sangat penting, karena merupakan sasaran dari proses belajar mengajar. Karena itu, tujuan pengajaran  sering dinamakan juga sasaran belajar.
Sejauh ini para ahli merumuskan bahwa instrumen tujuan –ruang lingkup-  pengajaran itu dapat dikategorikan kepada 3 (tiga) domain yaitu:

Pertama : Tujuan Kognitif
Aspek ini berkenaan dengan proses mental, seperti pemahaman terhadap pengetahuan, sehingga dapat mengungkapkan kegiatan mental seseorang yang berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat evaluasi. Atau juga tujuan ini dapat dikatakan suatu tujuan yang lebih banyak berkenaan dengan prilaku dalam aspek berfikir/intelektual. (Sadiman, 1988: 108)

Nana Sudjana menuliskan bahwa yang disebut tujuan kognitif itu adalah tujuan yang lebih banyak berkenaan dengan prilaku dalam aspek berfikir/intelektual. (Nana Sudjana, 2000: 50). Ditinjau dari tipe hasil belajar pada aspek ini termasuk ilmu pengetahuan yang sifatnya faktual, disamping itu pengetahuan hal-hal yang perlu diingat kembali, seperti batasan, peristilahan, pasal, hukum, bab, ayat, rumus, dan lain-lain.

Apabila diikuti pendapat Bloom sebagaimana yang dikutif Harjanto akan tampak lebih jelas ciri-ciri tingkat tujuan kognitif ini, yaitu:
1.      Tingkat Pengetahuan (Knowledge), pengetahuan di sini diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menghapal atau mengingat kembali pengetahuan yang pernah diterima. Termasuk di dalamnya tujuan kemampuan untuk menghafal, meniru, mengungkapkan kembali dan sebagainya
2.      Tingkat Pemahaman (Comprehension), yaitu kemampuan untuk mengerti, mengintrepretasikan dan menyatakan kembali dalam bentuk lain. Pemahaman diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam mengartikan, menafsirkan, menerjemahkan atau menyatakan sesuatu dengan caranya sendiri tentang pengetahuan yang pernag diterimanya.
3.      Tingkat Penerapan (Aplication), yaitu kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan teori, prinsip, peraturan, atau informasi ke dalam situasi yang baru. Penerapan di sini diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menggunanan pengetahuan untuk memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari.
4.      Tingkat Analisis (Analysis), yaitu menganalisis suatu masalah yang kompleks dengan membaginya menjadi beberapa bagian kecil untuk ditelaah satu persatu (kasus) Tingkat ini dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang merinci dan membandingkan pengetahuan atau data yang begitu rumit serta mengklasifikasikannya menjadi beberapa kategori, dengan tujuan agar dapat mengenal hubungan dan kedudukan masing-masing data terhadap data lain.
5.      Tingkat Sintesis (Syntesis), yaitu menggabungkan beberapa bagian (hal) ke dalam satu wadah/ bentuk baru. Tingkat Sintesis (Syntesis) dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh.
6.      Tingkat Evaluasi (Evaluation),  yaitu kemampuan untuk menentukan kriteria. Tingkat ini dimaksudkan sebagai kemampuan seseorang dalam membuat perkiraan atau keputusan yang tepat berlandaskan kriteria atau pengetahuan yang dimilikinya. (Sadiman, 1988: 109-111)



Kedua: Tujuan Afektif
Menurut Sadiman yang dimaksud dengan tujuan Afektif adalah tujuan yang mencakup berbagai aspek yang berhubungan dengan sikap, prilaku, perasaan dan nilai. (Sadiman, 1980: 113). Jelasnya tujuan ini berkaitan erat dengan peneNtuan sikap, nilai, evaluasi, menyenangi dan menghormati.

Untuk lebih memperdalam  pemahaman kita pada tujuan afektif ini, para ahli kategorikannya kepada 5 (lima) tingkatan. Kategori ini  dimulai dari tingkat yang dasar atau sederhana sampai tingkat yang kompleks.

1.      Penerimaan (receiving/attending), yakni semacam kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang pada siswa, baik dalam bentuk masalah situasi, gejala. Dalam tingkatan ini termasuk kesadaran, keinginan untuk menerima stimulus, kontrol dan seleksi gejala atau rangsangan dari luar.
2.      Pemberian Respon (responding), yakni reaksi yang diberikan seseorang terhadap stimulus yang datang dari luar. Dalam hal ini termasuk ketepatan reaksi, perasaan, kepuasan dalam menjawab stimulus dari luar yang datang kepada dirinya.
3.      Penghargaan (valuing), yakni berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhdap gejala atau stimulus. Dalam evaluasi ini termasuk di dalamnya kesediaan menerima nilai, latar belakang atau pengalaman untuk menerima nilai, dan kesepakatan terhadap nilai tersebut.
4.      Pengorganisasian, yaitu pengembangan nilai ke dalam satu sistem organisasi, termasuk menentukan hubungan satu nilai dengan nilai lainnya dan kemantapan, dan prioritas nilai yang telah dimilikinya. Yang termasuk dalam organisasi ialah konsep tentanh nilai, organisasi dari pada sistem nilai.
5.      Krakterisasi, yakni keterpaduan dari semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Disini termasuk keluhuran nilai dan krakteristiknya.

Ketiga: Tujuan Psikomotor
Tujuan-tujuan psikomotor adalah tujuan-tujuan yang banyak berkenaan dengan aspek ketrampilan motorik atau gerak dari peserta didik. Atau juga boleh dikatakan merupakan tujuan yang berhubungan dengan ketrampilan atau keaktifan pisik.kawasan psikomotor adalah berhubungan dengan seluk beluk yang terjadi karena adanya koordinasi otot-otot  oleh pikiran sehinga diperoleh ketrampilan pisik tertentu.

Menurut Simpson sebagaimana yang dikutif oleh Sudjana domain psikomotor terbagi atas tujuh kategori tingkatan yaitu:

1.      Persepsi, aspek ini mengacu pada penggunaan alat dirior untuk memperoleh kesadaran akan suatu objek/gerakan dan mengalihkannya ke dalam kegiatan/perbuatan.
2.      Kesiapan, aspek ini mengacu ada kesiapan memberikan respon secara mental, fisik maupun perasaan untu suatu kegiatan.
3.      Respon terbimbing, aspek ini mengacu pada pemberian respon sesuai dengan contoh perilaku/gerakan-gerakan yang diperlihatkan/didemonstrasikan sebelumnya.
4.      Mekanism, aspek ini mengacu pada keadaan di mana respon fisik yang dipelajari telah menjadi kebiasaan.
5.      Respon  yang kompleks, aspek ini mengacu pada pemberian respon atau penampilan perilaku/gerakan yang cukup rumit dengan trampil dan efisien.
6.      Adaptasi, aspek ini mengacu pada kemampuan menyesuaikan respon atau perilaku/gerakan dengan situasi yang baru.
7.      Organisasi, aspek ini mengacu pada kemampuan menampilkan dalam arti menciptakan perilaku/gerakan yang baru.

E.     Teknik Merumuskan Tujuan Pembelajaran
1. Pengertian
Dalam merumuskan tujuan pengajaran identik dengan bagaimana perumusan atau pengembangan sistem instruksional dalam pembelajaran, “sistem” sama dengan system –bahasa Inggris- artinya suatu perangkat dari bagian-bagian yang diikat atau dipersatukan oleh beberpa bentuk hubungan saling mempengaruhi. Sementara instruksional dapat diberi arti pembelajaran, pengajaran dan bahan-bahan instruksi dalam arti perintah. (Harjanto, 1997:51-52)
Dari term di atas Soeparman mensinyalir Scahaure bahwa pengembangan instruksional adalah sebagai perencanaan akal sehat untuk mengindentifikasi masalah belajar dan mengusahakan pemecahan masalah tersebut dengan menggunakan pelaksanaan evaluasi, uji coba, umpan balikdan hasilnya, atau juga dapat dikatakan bahwa pengembangan instruksional adalah sebagai proses sistematis untuk meningkatkan kualitas kegiatan instruksional. (Atwi Soeparman, 1997: 29)

Dalam bahasa yang sangat sederhana dapat dipahami bahwa tujuan pengembangan instruksional itu adalah rumusan pernyataan mengenai kemampuan atau tingkah laku yang diharapkan, dimiliki, dikuasai siswa setelah ia menerima proses pembelajaran.

Dengan demikian sistem pengembangan isntruksional sekurang-kurangnya memiliki dua dimensi yaitu; pertama, dimensi rencana (a plan), artinya dalam dimensi ini sistem instruksional harus merujuk kepada prosesdur atau langkah-langkah yang seogianya dilalui dalam mempersiapkan terjadinya proses belajar-mengajar, dan kedua, dimensi proses nyata (a reality), maksudnya sistem instruksional harus merujuk kepada interaksi kelas atau the classroom system. Kedua sistem ini secara konseptual merupakan suatu sistem kurikulum yang dengan sendirinya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem pendidikan.

Dari paradigma di atas urgensi pengembangan instruksional dalam pembelajaran adalah merupakan suatu hal yang sangat penting. Dan sejalan dengan urgensi itulah pengembangan instruksional sejak lebih kurang dua puluh tahun yang lalu penerapannya di Indonesia mulai populer penggunaannya. Penggunaan tersebut di singkat dengan PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksinal) program ini lahir pada perinsipnya untuk mengiringi munculnya kurikulum 1975 yang berlaku untuk tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah.

Sejalan dengan perkembangan dunia pendidikan dan pengajaran, tampaknya istilah sistem pengembangan instruksional nyaris hampir tidak digunakan lagi dalam pembelajaran. Istilah itu telah bergeser menjadi “pembelajaran”,  ini dapat dipahami bahwa kata “instruksional” lebih otoriter bila dibandingkan kata “pembelajaran”, lagi pula kata  “instruksional” menuntut otoritas guru dalam pembelajaran, terkesan satu arah, sementara kata “pembelajaran” menuntut demokratisasi guru dalam pembelajaran, terkesan multi arah. Oleh karena itu dalam menyebutkan tujuan instruksional umum (TIU) dan tujuan instruksional khusus (TIK), di ganti dengan kalimat tujuan pembelajaran umum (TPU) dan tujuan pembelajaran khusus (TPK). Dalam konsep Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) istilah TIU diidentikkan dengan Standar Kompetensi (SK) dan istilah TPK disebut dengan Kompetensi Dasar (KD)

2. Indikator Rumusan Tujuan Pembelajaran
Dalam pengertian yang sederhana indicator dapat dipahami sebagai alat ukur yang jelas dalam menentukan keberhasilan pembelajaran. Terlepas dari itu yang menjadi pokok pembicaran dalam sesi ini adalah bagaimana merumuskan tujuan pembelajaran, karena salah satu yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah rumusan pembelajaran khusus, justeru tujuan pembelajaran itu sendiri adalah merupakan perumusan tingkah laku/kemampuan yang diharapkan dimiliki peserta didik setelah mengikuti suatu program pembelajaran tertentu. Jadi tujuan dan indicator pembelajaran harus menggambarkan tingkah laku peserta didik yang diharapkan dengan jelas dan spesifik.

Dengan berpedoman kepada pendapat Mager ini, R. Ibarahim dan Nana Syaodah mengatakan bahwa indicator  Pembelajaran  yang sempurna itu hendaknya memiliki 5 (lima) unsur, yaitu:

1.      Unsur siswa atau audience (A)
Maksudnya dalam TPK ini dituliskan adanya peserta didik. Dalam penulisan audience ini dianjurkan penampilan yang diharapkan adalah penemapilan mandiri, yaitu dituliskan dalam kata “peserta didik”  bukan sebahagian peserta didik” atau “seluruh peserta didik” . dalam kata laian siapa siswa yang bersangkutan, misalnya seluruh siswa kelas I atau kelas V.
2.      Unsur prilaku atau behaviour (B)
Maksudnya mengandung kemampuan spesifik operasional. Untuk itu prilaku yang diharapkan hendaknya ditulis dalam bentuk kata kerja yang operasional yang tepat dan dapat diukur. Misalnya membuat gambar kucing, mempratekkan gerakan shalat.
3.      Unsur kondisi atau condition (C)
Maksudnya dituliskan persyaratan dan kondisi yang diperlukan untuk terjadinya penampilan atau tingkah laku yang diharapkan. Artinya menjelaskan kondisi di mana prilaku yang dimaksud diharapkan terjadi. Misalnya tanpa diberi contoh, dengan menggunakan microskop, dengan menggunakan jangka.
4.      Unsur standard atau degree (D)
Maksudnya dijelaskan kritria keberhasilannya. Kriteria keberhasilan ini dapat berupa satu atau gabungan dari pernyataan sebagai berikut:
1)      watku yang diperlukan untuk menyelesaikan perbuatan. Misalnya jangka waktu tidak lebih dari lima minit;
2)      jumlah atau persentase atau porsi dari keseluruhan butir test yang harus dipenuhi/dijawab dengan kriteria tertentu mislanya 80 % benar. Misalnya menyebutkan minimum tiga dari pulau yang besar.
3)      kualitas hasil
4)      kualitas porsen
5.      Unsur satu penampilan atau single performance (SP)
Maksudnya satu Indikator hanya memuat satu perubahan tingkah laku. (R. Ibarahim dan Nana Sapdah S. 1996: 80-81)

Dari komponen-komponen  di atas, di bawah ini akan diluncurkan satu contoh indicator yang mengandung audience, behaviuor, condition, degree dan single performance sebagai berikut:
 “Siswa kelas V/a dapat menggunakan mikroskop tanpa bantuan guru dalam waktu 15 minit untuk mengidentifikasi penampung batang, tanpa ketinggalan dan banyak kesalahan 10 %”.

Berdasarkan unsur-unsur indicator tersebut Harjanto mengakumulasikan bahwa indicator  itu harus dirumuskan dengan kriteria seperti disebutkan di bawah ini:

1)      Menggunakan kata kerja operasional, maksudnya rumusan yang diharapkan dirumuskan dalam kata kerja yang dapata diamati dan diukur, contoh siswa dapat menyebutkan,menggunakan, membedakan dan lain-lain.
2)      Berorientasi kepada anak didik, maksudnya TPK memberikan tekanan pada apa yang dikerjakan peserta didik, bukan apa yang dikerjakan guru. Contoh peserta didik dapat menyebutkan proses terjadinya gerhana matahari.
3)      Berbentuk tingkah laku, maksudnya memuat pernyataan tentang tingkag laku kemampuan yang diharapkan dimiliki peserta didik, misalnya peserta didik dapat mengindentifikasi komponen-komponen sistem belajar-mengajar.
4)      Hanya memuat satu perubahan tingkah laku, maksudnya dalam satu TPK sebaiknya hanya memuat satu perubahan tingkah laku/kemampuan yang diharapkan dimiliki peserta didik. Misalnya, pesrta didik dapat membedakan proses terjadinya angin darat dan angin laut. (Harjanto, 1997: 90-91)
Dari ketentuan-ketentuan yang disebutkan di atas, tampaknya indikatir  itu sangat sukar untuk merumuskannya, terutama dalam membuat dan menentukan kata-kata operasional yang tepat dan signifikan, untuk mengatasi kesulitan ini para ahli pendidikan merumuskan kata-kata kunci yang operasional dalam membuat indicator Konsep tersebut sebagaimana yang dituliskan oleh Bloom yang menyebutkan taksonomi tujuan pembelajaran khusus. Seperti yang disebutkan pada uraiaan berikut ini:

TAKSONOMI INSTRUKSIONAL
DALAM PROSES PEMBELAJARAN

I.       ASPEK DOMAIN KOGNITIF
No
INDIKATOR
1
Pengetahuan (Knowladge)
mendefenisikan, mendiskripsikan, mengidentifikasikan, menyebutkan, menyatakan dan merepreduksikan
2
Pemahaman (Comprehension)
mempertahankan, membedakan, menerangkan, memperluas, menyimpulkan, mengeneralisasikan, memberi contoh, menuliskan kembali dan memperkirakan
3
Aplikasi (Aplikation)
mengubah, menghitung, menemukan, memanipulasikan, memodifikasikan, mengoperasikan, meramalkan, menyiapkan, menghasilkan, menghubungkan, menunjukkan, memecahkan dan menggunakan
4
Analisis (Analysis)
merinci, menyusun diagram, membedakan, mengidentifikasikan, mengilustrasikan, menyimpulkan, menunjukkan, menghubungkan, memilih, memisahkan dan membagi
5
Sintesis (Syntesis)
mengatagorikan, mengombinasikan, menciptakan, memberi desain, menjelaskan, memodifikasi, mengorganisasikan, menyusun, membuat rencana, mengatur kembali, mengkonstruksikan, menghubungkan, merevisi, menuliskan kembali, dam menceritakan
6
Evaluasi (Evaluation)
menilai, membandingkan, menyimpulkan, mempertentangkan, mengkritik, mendiskripsikan, membedakan, menerangkan, memutuskan, menafsirkan, menghubungkan, dam membantu


II. ASPEK DOMAIN AFEKTIF
No
INDIKATOR
1
Penerimaan (Reesiving)
menyatakan, memilih, mendiskripsikan, mengikuti, memberikan, mengidentifikasikan, menyebutkan, menunjukkan, dan menjawab
2
Pemberikan Tanggapan (Responding)
menjawab, mendiskusikan, membantu, berbuat, melakukan, memberikan, menghapal, melaporkan, memilih, menceritakan dan menuliskan
3
Penghargaan (Valuiting)
melengkapi, menggambarkan, membedakan, menerangkan, mengikuti, membentuk, menggabungkan, mengusulkan, membaca, melaporkan, memilih, bekerja, mengambil bagian, dan mempelajari
4
Pengorganisasian (Organizing)
mengubah, mengatur, menggabungkan, membandingkan, melengkapi, mempertahankan, menerangkan, mengeneralisasikanmengidentifikasikan, mengitegrasikan, memodifikasikan, mengorganisir, menyiapkan, menghubungkan, dan mensistematiskan
5
Pengkrakterisasian (Crakterization)
membedakan, menerapkan, mengusulkan, memperagakan, mempengaruhi, mendengarkan, memodifikasikan,mempertunjukkan, menanyakan, merevisi, melayani, memecahkan dan menggunakan


III. ASPEK DOMAIN PSYCHOMOTORIS
No
INDIKATOR
1
Ket. Motoris (Motor Skill)
mempertontonkan gerak, menunjukkan hasil, melompat, menggerakkan dan menampilkan
2
Respon Mekanis (Manipulation)
meresepsi, menyusun, membersihkan, menggeser, memindahkan dan membentuk
3
Respon Komplek (Newromuscularas Coordination)
mengamati, menerapkan, menghubungkan, menggandengkan, memadukan, memasang, memotong, menarik dan menggunakan

            Dengan demikian dapat di sederhanakan bahwa untuk merumuskan indicator pembelajaran itu harus mengukuti instrument seperti yang disebutkan dibawah ini:
a.      Indicator pembelajaran harus mengandung unsure A-B-C-D
b.      Indicator pembelajaran tidak boleh mengandung single performance
c.      Indicator pembelajaran tidak boleh terkonsentrasi pada salah satu aspek domain
d.     Indicator pembelajaran harus mengacu kepada kata-kata operasional yang ditetapkan oleh Bloom

3. Penyusunan Satuan Pembelajaran
Penjelasan ini diharapkan menjadi petunjuk praktis bagi guru dalam membuat satuan pelajaran, setelah menetapkan satuan pelajaran yang akan diajarkan. Sesuai dengan uraian di atas, penjelasan tentang cara penyusunan satuan pelajaran ini akan  yaitu; kerangka satuan pelajaran, isi satuan pelajaran dan teknik menyusun satuan pelajaran.
1. Kerangka Satuan Pelajaran (RPP)
Beberapa penyederhanaan dalam kerangka satuan pelajaran ini dapat dikemukakan sebagai berikut;
1)      bagian petunjuk umum dihilangkan karena RPP ini dibuat oleh masing-masing guru untuk digunakan oleh guru itu sendiri.
2)      Bagian metode sekaligus dicakup dalam kegiatan belajar-mengajar.
Dengan demikian kerangka satuan pelajaran yang telah disederhanakan menjadi sebagai berikut:







KERANGKA
RENCANA PERSIAPAN PEMBELAJARAN

I.       Identitas
No RPP        

Nama Sekolah

Nama Calon Guru/Guru

Mata pelajaran 

Standar Isi

Kelas

Semester

Waktu

II.    Standar kompetensi
III.    Kompetensi dasar        
IV.    Indikator
V.       Tujuan Pembelajaran
VI.    Materi Pembelajaran
V.     Metode Pembelajaran
VI .   KBM
No
Kegiatan Belajar
Metode
Waktu
Ket
1
Pendahuluan
Salam Pembukaan
Behavior
Membuka Pelajaran
Motivasi
Appersepsi
Preetest
Penyampaian standar isi
Penyampaian Tujuan Pembelajaran



2
Kegiatan Inti



3
Penutup
Mengaplikasikan Ide
Kesimpulan
Postest
Pemberian Tugas




VII. Alat dan Sumber Belajar
       1. Alat Pelajaran                        
       2. Sumber Pelajaran
VIII. Evaluasi
        A. Tekhnik                                       B. Bentuk Instrumen
       1)   Preetest : Tulisan                         1) Uraian test
2)  Posttest : Lisan                              2)   Isian         
       C. Item test / Istrumen test  



IX Aspek yang diukur

No
Item Test
Aspek yang Diukur
Tingkat Kesukaran
1

C
A
P
MD
SD
SK
2







3







4








X. Rublik Permintaan
No
Aspek
Skor
1
Jawaban Lengkap
4
2
Jawaban Kurang Lengkap
3
3
Jawaban Tidak Lengkap
2
4
Jawaban Salah
1
5
Jawaban Kosong
0

XI.  Pedoman Penilaian

Nilai siswa  :  skor perolehan siswa  x  100 %
       skor maksimum
XII.  Kunci Jawaban


                                                            ----------,-----------20
Kepala Sekolah                                                                             Guru Bidang Studi



  ------------------------                                                                                        ---------------------

           
G.Keterampilan Dasar Pemberlajaran

Moh. Uzer Usman merumuskan dalam bukunya Menjadi Guru Profesional bahwa ketrampilan mengajar yang harus di miliki oleh seorang guru paling tidak ada 8  (delapan) bagian, tapi diantara yang 8 (delapan) itu ada lima hal penting yang mau tidak harus dikuasai oleh guru,  yaitu:
1. Ketrampilan Bertanya
Ketrampilan bertanya artinya kompotensi guru memberikan atau mengajukan pertanyaan yang baik dan benar kepada siswa sesuai dengan perinsip dan kaedah yang tentukan untuk itu, dengan tujuan meningkatkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu masalah yang sedang dihadapi atau dibicarakan. Tujuan lain ketrampilan bertanyak ini adalah untuk mengembangkan pola berpikir dan cara belajar aktif dari siswa sebab berpikir itu sendiri sesungguhnya adalah bertanya.
Dengan melihat pentingnya ketrampilan bertanya ini, seorang guru harus mengusai dan memahami beberapa hal yang paling perinsipil untuk diketahui oleh guru yaitu:
Dasar-Dasar Pertanyaan yang Baik
1)   Jelas dan mudah dimengerti oleh siswa
2)   Berikan informasi yang cukup untuk menjawab pertanyaan
3)   Difokuskan pada suatu masalah atau tugas tertentu
4)   Berikan waktu yang cukup kepada ank untukberpikir sebelum menjawab pertnyaan
5)   Bagikanlah semua pertanyaan kepada seluruh murid secara merata
6)   Berikan respon yang ramah dan menyenangkan sehingga timbul keberanian siswa untuk menjawan atau bertanya
7)   Tuntunlah jawaban siswa sehingga mereka dapat menemukan sendiri jawaban yang benar.
Jenis-Jenis Pertanyaan
Jenis Pertanyaan Menurut Maksudnya
a)    Pertanyaan permintaan (complianc question), yakni pertanyaan yang mengharapkan agar siswa mematuhi perintah yang diucapkan dalam bentuk pertanyaan. Seperti: Dapatkah kamu tenang agar suara Bapak/Ibu dapat didengar oleh kalian semua?
b)    Pertanyaan retoris (rhetorical question), yaitu pertanyaan yang tidak menghendaki jawaban, tetapi dijawab oleh guru. Hal ini merupakan teknik penyampaian informasi kepada murid. Contoh: Mengapa observasi diperlukan sebelum PPL, sebab observasi merupakan... dst.
c)    Pertnyaan mengarahkan atau menuntun (prompting question), yakni pertanyaan yang diajukan untuk memberi arah kepada murid dalam proses berpikirnya.
d)   Pertanyaan menggali (probing question), yaitu pertanyaan lanjutan yang akan mendorong murid untuk lebih mendalam

Komponen-Komponen Ketrampilan Bertanya
1. Pemmberian acuan, maksudnya sebelum memberikan pertanyaan guru perlu memberikan  acuan yang berpa pertanyaan yang brisi informasi yang relevan dengan jawaban yang duharapkan dari siswa.
2.  Pemindahan giliran, artinya pertanyaan perlu dijawab oleh lebih dari seorang karena jawaban siswa belum benar atau belum memadai.
3.  Penyebaran, pertanyaan yang diajukan para siswa hendaknya dapat giliran menjawab secara acak.
4.  Pemberian waktu berpikir, seluruh siswa sebelum menjawab pertanyaan harus diberikan waktu berpikir untuk menjawab pertanyaan yang diajukan.
5.  Pemberian tuntunan, apabila siswa tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan, maka guru harus memberikan tuntunan pertanyaan sehingga siswa dapat menjawab pertanyaan yang diajukan.
Hal-hal yang Perlu Perhatikan dan Kebiasaan yang Perlu Dihindari
Dalam mengajukan pertanyaan kepada siswa perlu dibarengi dengan kehangatan dan keantusiasan, dan perlu juga diingat bahwa kebiasaan yang perlu dihindarkan dalam memberikan pertanyaan kepada siswa yaitu:
1.      Jangan mngulang-ngulang pertanyaan
2.      Jangan mengulang jawaban, jangan menjawaab sendiri pertanyaan
3.       Usahakan agar siswa tidak menjawab pertanyaan secara serempak
4.       Tidak menentukan atau menetapkan siswa yang harus menjawab sebelum mengajukan pertanyaan
5.      Dan menghindari pertanyaan ganda

2. Ketrampilan Memberi Penguatan
Pengertian dan Tujuan
Penguatan disebut juga reinforcement, maksudnya adalah segala bentuk respon, apakah bersifat verbal ataupun nonverbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa yang betujuan untuk memberikan informasi ataupun feedback bagi siswa guna untuk meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran, atau merangsang dan meningkatkan motivasi belajar
Jenis-Jenis Penguatan
Memberikan penguatan pada pembelajaran suatu hal yang terpuji dan merupakan keharusan dalam mengimplementasikannya dalam proses pembelajaran, penguatan dalam pembelajaran dapat dikategorikan kepada dua jenis penguatan pertama Penguatan Verbal dan Kedua Penguatan Non Verbal Penguatan verbal adalah penguatan yang dilakukan oleh guru melalui ungkapan atau kata-kata dengan menggunakan kalimat pujian, penghargaan, persetujuan dan sebagainya. Misalnya bagus, bagus sekali, betul, pintar ya, seratus untuk kamu. sementara Penguatan Non-Verbal adalah penguatan yang diberikan oleh guru dalam bentuk yang berkaitan dengan pengelolaan pembelajaran, adapun jenis-jenis penguatan non verbal itu adalah:  
1)        Penguatan gerak isyarat; misalnya anggukan atau gelengan kepala, senyuman. Kerut kening , acungan jempol, wajah mendung, wajah cerah, sorot mata yang ssejuk bersahabat atau tajam menentang
2)         Penguatan pendekatan; guru mendekati siswa untuk menyatakan perhatian dan kesenangannya terhadap pelajaran, tingkah laku atau penampilan siswa. Misalnya guru berdiri di samping siswa, berjalan menuju siswa, dekat seorang atau kelompok siswa atau berjalan di sisi siswa. Penguatan ini berfungsi menambah penguatan verbal.
3)         Penguatan dengan sentuhan (contak), guru menyatakan persetujuan dan penghargaan terhadap usaha dan penampilan siswa dengan cara menepuk-nepuk bahu atau pundak siswa, berjabat tangan mengangkat tangan siswa yang menang dalam pertandingan. Penggunaannya harus dipertibangkan dengan sekasama agar semua usia, jenis kelamin, dan latar belakang kebudayaan setempat
4)        Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan; guru dapat menggunakan kegiatan-kegiatan atau tugas yang disenangi oleh siswa sebagai penguatan, misalnya seorang siswa yang menunjukkan kemajuan dalam pelajaran musik ditunjuk sebagai pimpinan paduan suara sekolah
5)        Penguatan berupa simbol atau benda; penguatan ini dilakukan dengan cara menggunakan berbagai simbol berupa benda seperti kartu begambar, bintang plastik, lencana, ataupun komentar tertulis pada buku siwa. Hal ini jangan terlalu sering digunakan agar tidak terjadi kebiasaan siswa mengharap imbalan
6)        Penguatan tak penuh atau partial; penguatan ini diberikan jika siswa memberikan jawaban yang hanya sebagian saja yang benar guru hendaknya tidak langsung menyalahkan siswa. Umpamanya ya... jawabanmu sudah baik, tapi masih perlu disempurnakan.

Dengan prinsip diatas dapat dirumuskan bahwa penguatan dapat dilakukan paling tidak dengan 4 (empat) cara: 1) Penguatan kepada pribadi tertentu 2) Penguatan kepada kelompok siswa, 3) Pemberian penguatan dengan segera dan 4) Pemberian variasi dalam penguatan. (Moh. Uzer Usman, 1994:73-74)
3. Ketrampilan Mengadakan Variasi
Pengertian dan Tujuan Ketrampilan Mengadakan Variasi
Variasi mengajar adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interakasi belajar-mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan nuris sehingga dalam situasi belajar-mengajar muris senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme serta penuh partisipasi.
Dari pengertian di atas dapat di diperoleh gambaran bahwa tujuan Ketrampilan Mengadakan Variasi adalah:
1.      untuk menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa kepada aspek-aspek belajar-mngajar yang relevan.
2.      untuk memberikan kesempatan bagi berkembangnya bakat ingin mengetahui dan menyelidiki pada siswa tentang hal-hal- yang baru.
3.      untuk memupuk tingkah laku yang positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai cara mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belajar yang lebih baik.
4.      guna memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh cara menerima pelajaran yang disenanginya.

Komponen-Komponen Ketrampilan Mengadakan Variasi
Dalam proses pembelajaran sangat diperlukan membuat aksi dan aksen di dalam ruangan kelas, melakukan aksi dimaksud bertujuan untuk menghindari kekakuan dalam proses pembelajaran, maka untuk itu perlu dilaksanakan dalam proses pembelajaran dengan variasi dan gaya mengajar, variasi dan gaya mengajar guru dimaksud dapat di ketegorikan seperti halnya berikut ini:
a.       Penggunaan variasi suara (teachers voice): variasi suara adalah perubahan suara dari keras menjadi lemah, dari tinggi menjadi rendah, dari capat berubah menjadi lambat, dari gembira menjadi sedih, atau pada saat memberikan tekanan pada kata-kata tertentu.
b.      Pemusatan perhatian siswa (focusing): memusatkan perhatian siswa pada hal-hal yang dianggap penting dapat dilakukan oleh guru. Misalnya dengan perkataan  “perhatikan baik-baik” atau “Nah, ini penting sekali” atau perhatikan dengan baik, ini agak sukar dimengerti”
c.       Kesenyapan atau kebisuan guru (teachers silence): adanya kesenyapan, kebisuan atau “selingan diam” yang tiba-tiba disengaja selagi guru menerangkan sesuatu merupakan alat yang baik untuk menarik perhatian siswa. Perubahan stimulus dari adanya suara kepada keadaan tenang atau senyap, atau dari adanya kesibukan atau kegiatan lalu dihentikan akan dapat menarik perhatian karena siswa ingin tahu apa yang terjadi.
d.      Mengadakan kontak pandang gerak (eye contak and movement): bila guru sedang berbicara atau berintegrasi dengan siswanya, sebaiknya pandangan menjelajahi seluruh kelas dan melihat ke mata murid-murid untuk menunjukkan adanya hubungan yang intim dengan mereka. Kotak pandang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dan untuk mengetahui perhatian atau pemahaman siswa.
e.       Gerakan badan dan mimik: variasi dalam ekspresi wajah guru, gerakan kepala dam gerakan badan adalah aspek yang sangat penting dalam berkomunikasi. Gunanya untuk menarik perhatian dan menyampaikan arti pesan lisan
f.       Pergantian posisi guru di dalam kelas dan gerak guru (teachers movement): pergantian posisi guru di dalam kelas dapat digunakan untuk mempertahankan perhatian siswa. Terutama sekali bagi calon guru dalam menghantarkan pelajaran di dalam kelas. (Moh. Uzer Usman, 1994:77-79)




 4. Ketrampilan Menjelaskan
Pengertian dan Tujuan Ketrampilan Menjelaskan
 Ketrampilan Menjelaskan dalam pengajaran adalah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematis untuk menunjukkan adanaya hubungan yang satu dengan lainnya, misalnya antara sebab dan akibat, adefenisi dengan contoh atau sesuatu yang belum diketahui. Penyampaian informasi yang terencana  dengan baik dan disajikan dengan urutan yang cocok merupakan ciri utama kegiatan menjelaskan. Pemberian penjelasan merupakan salah satu aspek yang amat penting dari kegiatan guru dalam interaksinya dengan siswa dalam kelas. Dan biasanya guru cenderung lebih mendominasi pembicaraan dan mempunyai pengaruh langsung, misalnya dalam memberikan fakta, ide maupun pendapat, oleh sebab itu, hal ini haruslah dibenahi untuk ditingkatkan keefektifan agar hasil yang optimal dari penjelasan dan pembicaraan guru tersebut bermakna bagi murid.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan ketrampilan menjelaskan dalam proses pembelajaran adalah untuk membimbing murid agar dapat memahami hukum, dalil, fakta, defenisi dan prinsip secara objektif dan bernalar. Atau juga dapat berguna melibatkan murid untuk berpikir dengan memecahkan masalah-masalah atau pertanyaan. Tujuan  lain dari ketrampilan menjelaskan ini adalah untuk mendapatkan balikan dari murid mengenai tingkat pemahamannya dan untuk mengatasi kesalahpahamannnya dan mengatasi kesalahpahaman mereka.

Komponen-Komponen Ketrampilan Menjelaskan.
Penyajian suatu penjelasan dapat ditingkatkan hasilnya dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.       Kejelasan; penjelasan hendaknya diberikan dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh siswa, menghindari penggunaan ucapan-ucapan “e” , “aa”, “mm”, “kira-kira”, “umumnya” , “biasanya”, “ sering kali”, dam isitilah yang tidak dapat dimengerti oleh anak.
b.      Penggunaan contoh ilustrasi; dalam memberikan penjelasan sebaiknya digunakan contoh-contoh yang ada hubungan dengan suatu yang dapat ditemui oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari.
c.       Pemberian tekanan; dalam memberikan penjelasan, guru harus memusatkan perhatian siswa kepada masalah pokok dan mengurangi informasi yang tidak begitu penting. Dalam hal ini guru dapat menggunakan tanda atau isyarat lisan seperti, “ yang terpenting adalah”, “perhatikan baik-baik konsep ini”.
d.      Penggunaan balikan; guru hendaknya memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan pemahaman, keraguan, atau ketidak mengertian ketika penjelasan itu diberikan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan seperti, “ apakah kalian mengerti dengan penjelasan tadi? (Moh. Uzer Usman, 1994:80-81)




5. Ketrampilan Membuka Dan Menutup Pelajaran
Pengertian Ketrampilan Membuka Dan Menutup Pelajaran
Ketrampilan Membuka Pelajaran lazim juga disebut dengan set induction artinya suatu usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran untuk menciptakan prakondisi bagi murid agar mental maupun perhatiannya terpusat pada apa yang akan dipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek positif terhadap kegiatan pembelajaran. Dengan kata lain, kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan suasana siap mental dan menimbulkan perhatian siswa agar terpusat pada hal-hal yang akan dipelajarinya.
Kegiatan membuka pelajaran tidak hanya dilakukan oleh guru pada awal jam pelajaran, tetapi juga awal setiap penggal kegiatan inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengemukakan tujuan yang akan dicapai, menarik perhatian siswa, memberi acuan, dan membuat kaitan antara materi pelajaran yang telah dikuasai oleh siswa dengan bahan yang akan dipelajari.
Dari pengertian tersebut maka dapat diambil natijah bahwa tujuan diadakannya membuka dan menutup pelajaran itu adalah untuk menyiapkan mental siswa agar siap memasuki persoalan yang akan dipelajarinya, tujuan lain adalah untuk menimbulkan minat serta pemusatan perhatian siswa terhadap apa yang akan dibicarakan dalam kegiatan pembelajaran.       
Kemudian ketrampilan menutup pelajaran dapat juga disebut dengan set closure artinya kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran atau kegiatan belajar-mengajar. Hal bertujuan untuk memberi gambaran menyeluruh tentang apa yang dipelajari oleh siwa, atau juga untuk mengetahui tingkat pencapaian siswa dan keberhasilan guru dalam proses belajar-mengajar.
Siasat Membuka dan Menutup Pelajaran
Sekedar ilustrasi siasat membuka pelajaran dibawah ini digambarkan set iduction, seperti berikut ini:
Guru: Nah, anak-anak! Pada pertemuan kali ini kita akan mempelajari suatu pokok bahasan yakni tentang “Thaharah” . tetapi sebelu kita pelajari kebih lanjut topik ini, sebaiknya cobalah perhatikan dahulu ke depan, Gambar apa yang Ibu pegang ini? Ya. Kamu Indara, dan seterusnya.
Selanjutnya untuk melakukan siasat dalam menutup pembelajaran, dapat dilaksanankan sesuai dengan bentuk usaha kegiatan belajar-mengajar sebagai berikut:
a. merangkum atau membuat garis-garis besar persolan yang baru dibahas atau dipelajari sehingga siswa memperoleh gambaran yang jelas tentang makna serta esensi pokok persoalan yang baru saja diperbincangkan atau dipelajari.
b. mengonsolidasikan perhatian siswa terhadap hal-hal yang pokok dalam pelajaran yang bersangkutan agar informasi yang telah dierimanya dapat membangkitkan minat dan kemampuan terhadap pelajaran selanjutnya.
c. mengorganisasi semua kegiatan atau pelajaran yang dipelajari sehingga merupakan suatu kebulatan yang berarti dalam memahami materi yang baru dipelajari.
d. memberikan tindak lanjut (follow up) berupa saran-saran serta ajakan agar materi yang baru dipelari jangan dilupakan serta agar dipelajari kembali di rumah. (Moh. Uzer Usman, 1994:82-84)
Komponen Ketrampilan membuka dan menutup pelajaran.
1. Mebuka Pelajaran
Komponen ketrampilan membuka pelajaran meliputi:
a.      Menarik perhatian siswa: Banyak cara yang dapat digunakan oleh guru untuk menarik perhatian siswa antara lain dengan; gaya mengajar guru, penggunaan alat bantu pelajaran dan pola interakasi yang bervariasi
b.      Menimbulkan motivasi dengan cara; disertai dengan kehangatan dan keantusiasan, menimbulkan rasa ingin tahu, mengemukakan ide yang bertentangan dan memperhatikan minat siswa.
c.      Memberik acuan melalui berbagai usaha seperti; mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas, menyarankan langkah yang akan dilakukan, mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
d.     Membuat kaitan atau hubungan di antara materi-materi-materi yang akan dipelajari dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dikuasai oleh siswa.

2. Menutup Pelajaran
      Cara yang dapat dilkukan oleh guru dalam menutup pelajaran adalah:
a.       Menuju kembali penguasaan inti pelajarana dengan merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan.
b.      Mengevaluasi. Bentuk evaluasi yang dapat dilakukan oleh guru antara lain; mendemonstrasikan ketrampilan, mengaplikasikan ide baru pada situasi lain, mengekspolrasi pendapat siswa sendiri dam memberikan soal-soal tertulis. (Moh. Uzer Usman, 1994:85-86)

Prinsip-Prinsip Penggunaan Ketrampilan Dasar Pembelajaran
Penggunaan ketrampilan pembelajaran harus mempunyai prinsip-prinsip tertentu dengan tujuan agar pembelajaran dapat berhasilguna dan berdayaguna, prinsip-prinsip dimaksud adalah sebagai berikut:
1.      Kehangatan dan keantusiasan: sikap dan gaya guru termasuk suara, mimik dan gerak badan akan menunjukkan adanya kehangatan keantusiasan dalam memberikan penguatan.
2.      Kebermaknaan: penguatan hendajnya diberikan sesuai dengan tingkah laku dan penampilan siswa sehingga ia mengerti dan yakin bahwa ia patutut diberi penguatan.
3.      Menghindari penggunaan respons yang negatif: teguran dan hukuman masih bisa digunakan, respons negatif yang diberikan oleh guru berupa komentar bercanda menghina, ejekan yang kasar perlu dihindari karena akan memtahkan semangat siswa untuk mengembangkan dirinya.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar